3 Hari di Musi Banyuasin Part 1: Rumah Adat

3 Hari di Musi Banyuasin Part 1: Rumah Adat

Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Kabupaten seluas 14.265,96 kilometer persegi ini terdiri atas 14 Kecamatan.

Foto Waktu Perjalanan; krishna

Secara keseluruhan penduduk yang tinggal di kabupaten ini sering disebut orang Musi, karena tempat tinggal mereka di sekitar aliran sungai Musi. Tetapi penduduk di wilayah tertentu sering menamakan dirinya dengan sebutan khusus, misalnya yang tinggal di Kecamatan Sekayu sering menyebut diri mereka orang Musi Sekayu.

Orang Musi Banyuasin menggunakan bahasa Musi sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Musi termasuk rumpun bahasa Melayu yang mempunyai ciri-ciri menggunakan bunyi huruf “e: pada akhir kata, misalnya ‘kemana menjadi kemane’. Selain dipakai oleh orang Musi di kabupaten ini, bahasa Musi juga digunakan oleh orang Musi yang berdiam di kabupaten Musi Rawas. Menurut penelitian, wilayah asal bahasa Musi adalah di Kecamatan Sekayu, Babat, Toman, Banyu Lincir, Sunhai Lilin, dan Banyuasin Tiga.

Foto di Belakang rumah masyarakat. Indah bukan? Seharusnya ini adalah aset yang sangat berharga. Sungai Musi: Krishna

Tempat Tingal orang Musi Banyuasin sebagian besar merupakan dataran rendah yang diselingi rawa-rawa. Di sebelah barat merupakan dataran tinggi berhutan lebat yang termasuk bagian Pegunungan Bukit Barisan. Perkampungan orang Musi Banyuasin pada umumnya berada di daerah aliran sungai yang banyak terdapat di daerah tersebut. Sungai terbesar di daerah tersebut adalah Sungai Musi yang memiliki beberapa anak Sungai. Pada masa lalu sungai merupakan jalur transportasi penting di daerah ini. Hingga kini beberapa sungai masih dapat dilayari oleh perahu-perahu motor.

Rumah Limas merupakan rumah tradisional khas Provinsi Sumatera Selatan. Dari namanya, jelaslah bahwa rumah ini berbentuk limas. Bangunannya bertingkat-tingkat dengan filosofi budaya tersendiri untuk setiap tingkatnya. Tingkat-tingkat ini disebut masyarakat sebagai bengkilas. Apabila Anda bertamu ke salah satu Rumah Limas di wilayah Sriwijaya ini, Anda akan diterima di teras atau lantai dua saja. Rumah Limas sangat luas dan seringkali digunakan sebagai tempat berlangsungnya hajatan atau acara adat.

Bahan material dalam membuat dinding, lantai, serta pintu menggunakan kayu tembesu. Sementara untuk tiang rumah, pada umumnya menggunakan kayu unglen yang tahan air. Berbeda dengan rangka rumah yang terbuat dari kayu Seru. Kayu ini cukup langka. Kayu ini sengaja tidak digunakan untuk bagian bawah Rumah Limas, sebab kayu Seru dalam kebudayaannya dilarang untuk diinjak atau dilangkahi. Nilai-nilai budaya Palembang juga dapat Anda rasakan dari ornamen ukiran pada pintu dan dindingnya. Selain berbentuk limas, rumah tradisional Sumatera Selatan ini juga tampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiangnya yang dipancang hingga ke dalam tanah. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis lingkungannya yang berada di daerah perairan.

Data Kab. Musi Banyuasin

Rumah adat seperti ini merupakan anugrah dari leluhur bangsa nusantara tentang ilmu arsitektur yang bersahabat dengan alam. Seharusnya kita sadar, orang tua kita sudah belajar dari alam, kebiasaan, serta pengalaman yang panjang dibuktikan setiap rumah di musi banyuasin berbeda bukan karena tidak kompak tetapi setiap keluarga atau setiap garis keturunan memiliki falsafa, kepercayaan yang berbeda dari orang tuanya tetapi pada umumnya memiliki ciri yang sama, Rumah Pamnggung.

Rumah panggung sudah sangat populer dan sangat efektif bersahabat dengan alam. kenapa di tempat yang katanya modern sebaliknya dengan kepintaran melawan alam dengan menanam beton. Banjir kan?

Masih ada cerita tentang rumah pangeran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!