Seni Sebagai Tontonan dan Tuntunan

Seni Sebagai Tontonan dan Tuntunan

Sebuah Copy-an dari catatan masa kuliah dari blog saya sebelumnya maka saya copy untuk pengarsipan dan bacaan kalian, Terimakasih

Jadi teringat salah satu Guru besar saya prof. Darsono bagi yang kuliah desain seharusnya tidak asing dengan teori-teori Estetikanya.

Estetika Nusantara adalah sebuah disiplin mata kuliah yang saya dapatkan, awalnya saya berfikiran dalam ruang lingkup pribadi bahwa estetika nusantara adalah mata kuliah yang membahas tentang ornamen, tentang kesenian etnis dan tradisi dalam kenusantaraan kini. Jauh melenceng dari apa yang saya pikirkan begitu luar biasa apa yang saya dapatkan. Estetika Nusantara menurut yang saya tangkap merupakan Seni Keindahan Tradisi yang muncul dari “Seni sebagai Simbol ekspresi kultural” dan “Sugeti Alam” yang mencerminkan hubungan mikro-meta-makrokosmos yang memiliki tujuan yang jauh lebih luas dari hanya sekedar KEINDAHAN. Namun Estetika Nusantara memiliki tujuan sebagai Tontonan dan Tuntunan, Mencari Kesempurnaan (Ngudi Kasampurnan) –> Kearifan tertinggi, yang merupakan puncak filsafat adalah pengetahuan tentang Tuhan. Karena dalam pola pikir seniman tradisi nusantara “Berkarya merupakan pengabdian dharma kepada Tuhannya sesuai dengan ajaran budayanya”. 

Berkaitan dengan Konsep Tir Loka (tiga jagat) yaitu adalah Alam Bawah (mikrokosmos) adalah diri manusia itu sendiri, Alam Tengah (makrokosmos) adalah alam semesta dan segalah hal (isi dan sekitarnya), Alam Atas (metakosmos) adalah hubungan dengan Tuhannya. Dalam estetika nusantara simbol yang lahir merupakan wujut keindahan sekaligus ajaran (seni adalah tontonan dan tuntunan). Seniman Terikat oleh lingkunganya dimana dia hidup maka itulah bentuk yang muncul merupakan sugesti alam (motif batik yang tumbuh-tumbuhan, motif ornamen yang berbentuk hewan, tarian tradisional yang tersugesti hewan merak, klinci, dan kera) hal ini menunjukan bahwa seniman tradisi nusantara begitu dekat hubunganya dengan alam, dimana hal ini merupakan sebuah gambaran keseimbangan hidup antara batin, alam semesta dan Tuhan. 

Pentingnya keseimbangan antara batin, alam semesta dan Tuhan. konsep tiga jagat ini juga ditemukan dalam pembangunan Pura umat Hindu mereka membagi Pura mereka dalam tiga wilaya atau sering di sebut Tri Mandala (Nista mandala/Jaba Sisi, Madya mandala/Jaba Tengah, Utama Mandala). Dalam Kesenian Jawa banyak yang menggunakan konsep tri loka ini, 

Inilah sebagian contoh kecil dimana sebuah seni merupakan ajaran yang memiliki makna filosofi yang luarbiasa. Pengkajian karya seni tradisi merupakan hal yang sangat menarik selain mengungkap keindahan eksistensi bantuk secara fisik tetapi kita akan mendapatkan sebuah eksistensi makna yang jauh lebih indah dari bentuknya yang sering disebut roh-nya karya seni tersebut. eksistensi makna merupakan makna filosofis yang terkandung dalam karya seni tersebut sebagai ajaran yang luhur (tuntunan). 

Latar belakang kehidupan karya, karya tradisi merupakan karya seni yang hidup karena “konsep budaya keindahan itu milik Tuhan dan kita harus memintanya dan itu karya Tuhan kita hanya sebagai media” hal ini menunjukan bahwa karya tradisi yang memiliki idealisme keTuhanan yang menujukan sebuah ajaran luhur sesungguhnya hidup berkesinambungan dan terus terjaga baik dari bentuk maupun jajaranya. Esensi yang terjadi di masyarakat dari hal-hal tersebut masyarakat memaknai bahwa karya tadisi tersebut memiliki makna dan arti tersendiri maka mereka tidak sembarangan memakai karya tersebut. Dalam masyarakat jawa mereka tidak akan sembarangan memakai motif batik dalam kegiatan tradisinya karena harus menyesuaikan esensi makna dan kegiatan yang akan di lakukan. uniknya karya tradisi nusantara tidak ada yang memiliki karena para seniman nusantara tersebut telah memaknai “konsep budaya keindahan itu milik Tuhan dan kita harus memintanya dan itu karya Tuhan kita hanya sebagai media” maka karya tersebut hak milik/ hak cipta Tuhan, maka mereka tidak berani mencantumkan namanya dalam karyanya.

Konsep Mandala dalam Estetika Nusantara. Moncopat (konco papat limo pancer) 4+1. Dalam masyarakat jawa konsep mandala moncopat ini sangat banyak di gunakan dalam berbagai karya dan kehidupan masyarakat jawa. Atau sering di sebut Keblat Papat,Lima Pancer, di lain sisi diartikan juga sebagai kesadaran mikrokosmos. Dalam diri manusia (inner world) sedulur papat sebagai perlambang empat unsur badan manusia yang mengiringi seseorang sejak dilahirkan di muka bumi. Sebelum bayi lahir akan didahului oleh keluarnya air ketuban atau air kawah. Setelah bayi keluar dari rahim ibu, akan segera disusul oleh plasenta atau ari-ari. Sewaktu bayi lahir juga disertai keluarnya darah dan daging. Maka sedulur papat terdiri dari unsur kawah sebagai kakak, ari-ari sebagai adik, dan darah-daging sebagai dulur kembarnya. Jika ke-empat unsur disatukan maka jadilah jasad, yang kemudian dihidupkan oleh roh sebagai unsur kelima yakni pancer. Digambarkan juga empat nafsu + batin/roh:
Amarah : Bila manusia hanya mengutamakan nafsu amarah saja, tentu akan selalu merasa ingin menang sendiri dan selalu ribut/ bertengkar dan akhirnya akan kehilangan kesabaran. Oleh karena itu, sabar adalah alat untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT.
Supiyah / Keindahan : Manusia itu umumnya senang dengan hal hal yang bersifat keindahan misalnya wanita (asmara). Maka dari itu manusia yang terbenam dalam nafsu asmara/ berahi diibaratkan bisa membakar dunia.
Aluamah / Serakah : Manusia itu pada dasarnya memiliki rasa serakah dan aluamah. Maka dari itu, apabila nafsu tersebut tidak dikendalikan manusia bisa merasa ingin hidup makmur sampai tujuh turunan.
Mutmainah / Keutamaan : Walaupun nafsu ini merupakan keutamaan atau kebajikan, namun bila melebihi batas, tentu saja tetap tidak baik. Contohnya: memberi uang kepada orang yang kekurangan itu bagus, namun apabila memberikan semua uangnya sehingga kita sendiri menjadi kekurangan, jelas itu bukan hal yang baik.
Maka keempat nafsu tersebut harus di seimbangkan/dikontrol oleh batin manusia tersebut untuk mencapai keseimbangan dalam diri manusia tersebut. Karya Tradisi yang menggunakan konsep ini adalah rumah tradisional jawa joglo, limasan dll. Rumah tradisi tersebut di atur menghadap keutara dan memperhitungakn arah-arah mata angin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!